BIG LOVE OWNER

The Pathetic House Hunter (based on a true story)

In Tulisan Ringan on November 26, 2008 at 2:55 am
simple bait

simple bait

Ternyata nyari isteri sama nyari kontrakan itu lebih susah nyari kontrakan. Sudah sejak 3 bulan lalu mubat mubet nyari kontrakan, belum dapet juga. Jika dibandingkan dengan proses mencari istri (audisi) hingga menikah, rasanya proses nikah jauh lebih gampang dan cepat. Bulan agustus, aku mantapkan hati untuk mencari sigaraning nyawa. Langsung ku hubungi manajerku, kusodorkan kriteria2 yang harus terpenuhi untuk masuk nominasi. Ngga nyangka, 2 minggu setelahnya ada satu yang masuk nominasi. Dipikir-pikar sekian lama sembari istikharah, menimbang kelebihan dan kekurangan akhirnya cocok. Kelebihanya disyukuri, kekurangannya dimaklumi. Mak wesh..gampang dan lancar. Seperti orang melahirkan yang waktu hamil ngidam bekicot. Oktober langsung wedding party, desember beritanya udah rilis di media. Tapi nyari kontrakan..? wuih susahnya minta ampun. Nggak bisa seperti pas mau nikah. .

Kekurangan dalam salah satu aspek, bisa mengurungkan niat, bikin illfil. Paling tidak, aspek pertimbangannya; fisik rumah, air dan hawa, jarak dengan tempat kerja, lingkungan dan yang paling penting harga. Kadang fisik bagus, fasilitas lengkap,dekat, lingkungan bagus, tapi harganya bikin kita harus bolak balik ke BMT selama 3 tahun, setiap bulan. Harga oke, fisik dan fasilitas sip, jarak enggak masalah, tapi lingkungannya mengkhawatirkan, ya ngga tega ma istri.
Hemmh susah. ada yang punya info?

Baru kali ini aku merasakan perasaan aneh semacam ini, hati yang membuncah berbunga saat melihat rumah mungil bagus berlabel ” dikontrakan, hub….”. meski beberapa kali kecewa karena keduluan orang lain atau yang paling sering tawarannya bikin kantong mengkeret.

Di lain waktu, ada rasa jengkel yang menendang-nendang dada saat melihat rumah bagus dilemburukkan begitu saja. Diurus enggak, ditempati juga enggak. Mauku mbok yao rumah bagus-bagus kaya gitu itu disewakan dengan harga murah saja. Atau kalau perlu gratis, yang penting ada yang ngurus. Diwaqafkan jadi panti asuhan atau kantor yayasan. Jangan dibiarkan begitu saja jadi tempat clubbing suster-suster ngesot, pocongan sama gundul pringis. Mbangun rumah ngga cukup satu, tapi begitu jadi ditinggal tak ditempati. Padahal masih banyak saudara-saudara kita yang tinggal rumah-rumah kumuh di pinggir kali, juga kontraktor-kontraktor malang (Pathetic House Hunter) kayak saya ini, yang sangat butuh tempat berteduh.
Healah sabar sabar…dunia itu ya kayak gitu. Dikejar lari, didiemin semakin jauh

.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: