BIG LOVE OWNER

Su’udzan terhadap Caleg

In Tulisan Ringan on February 5, 2009 at 3:05 am

Kalau disuruh milih, caleg mana yang pingin saya coblos, saya pasti milih caleg nomer 0,01 per detik. Lho kok bisa? Lha iya. Dari sisi desain grafis pamflet maupun bannernya aja udah keren. Lebih lebih calegnya itu juga gue bangets. Posenya juga oke karena memang orangnya photogenit. Ndak kaya yang lain, udah desain grafisnya norak, posenya datar kaya poto KTP. Kalau anda pingin tahu, caleg pilihan saya itu adalah caleg dari partai IM3.

Kenapa saya pilih dia, alasannya ndak cuma karena calegnya yang cakep, tapi yang lebih penting, janjinya itu pasti. Pasti ditepati, meski dengan syarat dan ketentuan berlaku. Kalau ndak percaya, buktikan aja sendiri, beli kartu anggota partai IM3, pasti kalau nerlpon sesama anggota partai murah banget. Ndak usah nunggu pemilu. Ndak kaya caleg lain, sudah dipilih aja kadang janjinya itu ya Cuma janji. Janji persuasif ngapusif biar pada milih dia tapi belum jelas buktinya.

Hemh, entahlah. Lupakan saja fanatisme saya soal caleg pilihan saya. Wong golput alias ndak milih juga ndak masalah kok. Wong ndak milih itu juga sebuah pilihan kok. Yang perlu kita prihatinkan saat ini adalah betapa susahnya mencari pemimpin, caleg, wakil rakyat dan pejabat yang benar-benar amanah. Yang benar-benar beritikad baik menyejahterakan rakyat. Yang nggak Cuma obral janji. Yang seperti salah satu dari tipologi pemimpin menurut Ronggowarsito ” Satria Boyong Pembukaning Gapura”. Pemimpin yang akan menjembatani ke arah kemakmuran. Negarawan tanpa pamrih, mengemban tugas meletakan pondasi, membuka pintu gapura, menggelar tikar namun tidak sempat menduduki tikar yang digelar itu. Itu kata ronggowarsito. Tapi mencari orang kayak gini ini susahnya kayak mencari jarum pentul di tumpukan jerami, atau mencari badak bercula satu. Sampai-sampai kadang saya itu pesimis, apa ada ya orang kayak gitu?

Lha kalau diliat dari cara bagaimana pemimpin itu dipilih saja sudah bikin su’udzan. Sekarang ini apa mungkin bisa jadi pemimpin tanpa bekingan duit yang kuat. Kok jadi gubernur, ha wong dadi lurah aja dananya bisa ratusan jeti. Kalau begini gimana ndak su’udzan? Apa iya dia itu bener-bener berniat ikhlas ingin menyejahterakan rakyat (orang lain). Hebat banget dah. Orang yang rela menggelontorkan dana ratusan juta hanya untuk satu tujuan, membuat orang lain sejahtera. Apa iya ndak ada keinginan, minimal balik modal, atau bahkan cari untung? Dan apa iya keinginan ini tidak dijadikan program primer?
Jabatan. Sekarang dah kaya barang lelangan. Yang paling tinggi penawarannya, yang paling berpeluang mendapatkkannya. Kata orang Arab, man jadda wajada, barangsiapa yang bersungguh-sungguh, dalam kampanye, buat pamflet dan baliho, pasang photo-photo narsis dimana-mana serta sambung koneksi, ditambah agak sogok sana sini, wajada! Dia akan mendapatkan yang dinginkannya.
makanya, sekarang orang-orang pada semangat banget kaya gitu. Tapi apa iya niatannya ikhlas untuk jadi pengemban amanah rakyat; orang yang bekerja untuk rakyat, orang lain. Keluarga bukan teman juga gak kenal. Malah ada yang sampai diewangi gontok gontokan sama caleg lain, mung karena salah satu potonya dirusak.
Weleh, nek dipikir pikir, ini sebenarnya fenominul yang positif berupa mulai merebaknya orang-orang budiman yang karena kesadaran akan kemampuannya dan demi melihat kesengsaraaan sekitarnya, lalu saling berlomba jadi pemimpin yang ingin memajukan bangsa? atau malah sebaliknya? Merebaknya manusia-manusia serakah yang haus kekuasaan dan harta, yang ingin menggunakan kekuasan dan jabatan untuk mengeruk keuntungan untuk perutnya?
Weleh weleh.. ini su’udzan. Su’udzan! Asli su’udzan. Cuma prasangka buruk. Bahkan mungkin terlalu buruk untuk sekadar jadi prasangka. Hemmhh…
(hihi lumayan bisa posting lagi)

Advertisements
  1. Menarik juga ulasan kamu, cuma kita tentunya berkewajiban untuk memilih yang baik diantara yang buruk kan, apapun alasannya orang tua kita semua dulunya sepakat membentuk negara yang namanya Indonesia, beserta aturan yang sudah disepakati bersama yang salah satunya adalah adanya lembaga legislatif, jadi apapun yang terjadi kalau kita mau menjadi baik tentunya kita juga harus mau merubah yang buruk dengan memilih yang paling baik dari yang buruk, sehingga dengan berjalannya waktu semain hari semakin baik, kalau mau golput ya sah-sah saja tapi kan ibarat orang mau berubah tapi diem saja sambil mencaci maki orang lain kok nggak mau merubah

    Salam
    H2O
    http://pastiketemu.blogspot.com/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: